Minggu, 28 September 2014

Cerbung Simpel I : Salah Siapa ? ( Part I )

Halo Semuanya...

Pada kesempatan kali ini, admin akan memperkenalkan jenis postingan baru di Blog STJ, yaitu Cerbung Simpel. Cerbung Simpel ini adalah sebuah postingan yang berisi cerpen-cerpen bersambung yang orisinil buatan admin, yang tidak bertemakan horor. Cerbung di dalam Cerbung Simpel biasanya mempunyai pesan-pesan moral tersendiri ( ya semacam penerus dari postingan "Sebuah Cerita Sederhana" )...
Untuk Cerbung Simpel yang pertama, admin akan memposting di dalamnya sebuah cerbung berjudul "Salah Siapa ?". Cerbung ini akan mengisahkan tentang pemikiran seorang murid terhadap hubungan antar guru dan murid.

Demi kenyamanan membaca anda, maka saya sudah membagi cerbung ini menjadi beberapa part. Dan yang ini adalah Part I-nya...

Oh iya, bila anda sudah selesai membaca ketiga bagian cerbung nanti, juga bila anda mau, tolong tuliskan pendapat anda tentang cerbung ini di kolom komentar.

Oke, tanpa banyak kata lagi, berikut adalah cerpennya...

Salah Siapa ?

( Part I )

- T.A.A. -



Setitik cahaya surya terbersit di ufuk timur. Hari masih sangat pagi. Tiada seorangpun murid yang telah datang ke sekolah, kecuali aku. Aku sering sekali datang pagi ke sekolah. Ketika ditanya apa alasanku berangkat pagi-pagi sekali, aku selalu menjawab “Agar terhindar dari macet”. Semua orang yang mendengarkan jawabanku selalu membalas dengan anggukan setuju.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit mengalir, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Sudah satu jam sejak aku tiba di sekolah. Namun, hanya beberapa batang hidung yang sudah tampak sepanjang penglihatanku pagi ini.

Aku mengambil nafas sejenak, menikmati udara pagi segar nan menyejukkan. Jarang sekali kudapatkan udara semacam ini di Jakarta, kota sibuk penuh polusi.

Kemudian aku berjalan ke taman sekolah. Tumbuhan-tumbuhan di taman berdiri tegak, seakan-akan mereka sudah bangun dari tidur mereka, dan siap melanjutkan kehidupan dengan tenang, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku lalu duduk di sebuah kursi batu. Dingin rasanya permukaan batu itu. Namun segera rasa dingin itu sirna tergantikan oleh hangatnya hatiku oleh segala keindahan pagi.

Waktu terus saja mengalir dengan cepat. Tanpa terasa, sepi sunyi yang mewarnai pagi hari di sekolah, kini telah berganti dengan atmosfer keramaian dan kegembiraan, yang berasal dari para murid-murid yang sudah tiba di sekolah. Ah, betapa cepatnya sebuah suasana kesunyian pagi yang damai sirna...

Bel sekolah berbunyi. Aku mengambil langkah seribu menuju kelas. Sesampainya disana, kududuk di kursi kayu tua, yang akan selalu menjadi tempatku bernaung di kelas, sampai kuterima kertas ijasah.

Di depan kelas, telah berdiri dua orang lelaki yang mendapat tugas doa pagi. Mereka bernama Hendry dan Angelo, keduanya bagaikan kutub-kutub magnet, saling berlawanan dan bertolakan. Suatu hal yang aneh bagiku untuk melihat mereka berdua mau melaksanakan tugas bersama.

Setelah selesai berdoa, seorang guru masuk ke dalam kelas. Ia memulai pelajaran dengan ceramah-ceramahnya yang ia rasa bagus dan efektif, namun dalam realitanya tidak akan dihiraukan terlalu lama oleh para pendengarnya di kelas.

Dan seperti biasa, beberapa mulut mulai bersuara, kemudian disusul dengan lebih banyak mulut, dan akhirnya tak lama kemudian hampir seluruh  kelas tenggelam dalam kesibukan mereka sendiri-sendiri , tanpa terlalu menghiraukan sang guru yang senantiasa berdiri di depan, terus dan terus mengoceh.

Aku tak habis pikir, bagaimana sebuah kelas bisa menjadi seperti ini ?
Apakah sang guru yang salah ? Atau para muridkah yang salah? Atau bahkan keduanya yang bersalah ?

Sulit sekali ku memutuskan siapa yang bersalah, karena barangkali aku sendiri punya andil dalam perkara ini. Siapa yang tahu ?

Aku kembali melirik sang guru, yang kini terduduk diam di kursi gurunya. Ia asyik membaca sebuah buku. Entah apa isi buku itu, yang pasti buku itu telah berhasil menarik perhatiannya, sampai-sampai ia melupakan para mantan pendengarnya.


Aku berpikir, apakah ia sudah menyerah ? 

Apakah ia sudah muak dengan kelakuan para muridnya, namun tak berniat sama sekali untuk berteriak marah ? 

Atau jangan-jangan ia sudah tidak peduli lagi dengan murid-murid kelas? 

Sampai-sampai perhatiannya sekarang hanya ia berikan pada sebuah kumpulan kertas-kertas bertinta, Sementara kelas yang seharusnya ia bimbing dan ajar tenggelam dalam hiruk-pikuk pembicaraan yang tidak terlalu penting ? 

Siapa yang tahu ?


Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Harap komen dengan penuh tanggung jawab dan sopan.....
Jangan spam di bagian komen blog ini !
Jangan mengiklankan hal-hal berbau porno di kolom komen !
Selamat berkomentar !