Minggu, 28 September 2014

Cerbung Simpel I : Salah Siapa ? ( Part II )



Salah Siapa ?
( Part II )

- T.A.A. -




Aku semakin tenggelam ke dalam pemikiranku, sampai-sampai aku membayangkan bahwa sekarang ini aku sedang duduk diatas batu besar di tengah kolam hutan. Asyik berpikir sendiri, tanpa peduli apapun yang terjadi di sekitarku.

Sayup-sayup kudengar sebuah suara halus dan manis, suara itu memanggil namaku dengan pelan...

Aku menoleh ke arah suara itu berasal, dan benar dugaanku, suara manis nan lembut itu tak lain dan tak bukan adalah milik Brigitta, seorang perempuan muda dan sahabat karibku sejak kecil, yang entah karena kehendak Tuhan atau apa, selalu bersamaku dari kanak-kanak sampai remaja. Dari kecil sampai sekarang, kepribadiannya selalu sama. Ramah, manis, dan lembut. Tak pernah sekalipun kulihat kemarahan muncul di wajahnya yang cantik bagaikan bunga.

Aku membalas panggilannya dengan lembut,”Ada apa ?”

Ia lalu menjawab,”Kenapa kamu diam saja Agung ? Yang lain semuanya senang dan gembira, tapi kamu hanya diam dan tidak berbicara ? Apakah kau sedang tidak enak badan ? Atau apakah ada sesuatu yang membuatmu murung ?”

Aku menjawabnya dengan tenang,”Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

“Sesuatu apa ?”Balasnya.

“Bukan apa-apa. Hanya sesuatu, yang menarik...untuk dipikirkan,”Jawabku.

“Memangnya apa ? Aku penasaran,”Balasnya lagi.

“Aku tidak bisa menjelaskan itu padamu. Yang pasti itu tentang kelas kita sekarang.”

“Oh, aku pikir apa. Ya sudah,”Katanya sambil meninggalkanku.

Aku sengaja tidak memberitahunya hal itu. Karena aku tidak mau, ia menjadi bingung sepertiku. Di samping itu, aku juga tidak ingin menerima komentar-komentar yang menyangkut apa-apa yang kupikirkan. Tidak, aku sudah capek dengan semua itu...

Matahari semakin naik ke atas langit, sama juga dengan antusiasme murid. Bukan dalam hal belajar, namun dalam hal bercengkerama dengan sahabat-sahabat sesama pelajar. Memang jaman ini jaman yang aneh...

Guru demi guru masuk dan keluar dari kelasku. Masing-masing masuk dan keluar dengan  bermacam ekspresi. Marah, kesal, senang, datar, dan bahkan sedih. Semuanya diukir oleh para pelukis atmosfer kelas, yang bernama “pelajar”.

Terkadang guru juga mencurahkan isi hati mereka pada muridnya. Entah isi hatinya penuh dengan kekesalan atau kemarahan, atau kegembiraan dan kedamaian. Semua itu ditentukan oleh para murid.
Hal itu membuatku berpikir lagi, sebenarnya siapa yang membuat isi hati para guru itu berisi seperti itu ?

Apakah memang benar murid-murid yang berbuat demikian ?

Ataukah sang guru itu sendiri yang berbuat demikian ?

Mengapa isi hati mereka terkadang penuh dengan kemarahan dan ketidakpuasan terhadap murid-murid ? Mengapa terkadang mereka tak menaruh sedikitpun perhatian pada murid ? Padahal merekalah yang bertanggung jawab mendidik para murid ?

Juga mengapa para murid begitu tidak peduli pada guru ? Padahal tanpa guru, mereka mungkin akan menjadi anak-anak berandalan, yang tidak beradap dan berpendidikan ?

Mengapa hubungan guru dan murid begitu penuh dengan keburukan ? 

Mengapa kedamaian hanya muncul sesekali pada mereka ?

Salah siapa ini ?

Aku bagaikan ganggang di dasar sungai pegunungan, yang setiap hari berusaha untuk bertahan agar tidak terbawa arus sungai yang kian hari kian deras, ditambah lagi dengan akar ganggang yang kian hari kian lemah. Begitulah aku di kelas, kian hari semakin tidak kuat untuk tidak ikut-ikutan mereka yang meramaikan kelas.

Aku berusaha membuat pikiranku tetap jernih. Menerapkan satu prinsip : Guru dan teman harus diperlakukan dengan baik. Itu saja.


Namun lama-lama, kedua pihak itu semakin mendorongku untuk memilih satu pihak saja. Kelak mungkin akan ada saatnya dimana aku memang benar-benar harus memilih satu sisi saja. Teman, atau guru...

Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Harap komen dengan penuh tanggung jawab dan sopan.....
Jangan spam di bagian komen blog ini !
Jangan mengiklankan hal-hal berbau porno di kolom komen !
Selamat berkomentar !