Minggu, 28 September 2014

Cerbung Simpel I : Salah Siapa ? ( Part III )

Salah Siapa ?

( Part III )

- T.A.A. -

Akhirnya bel sekolah berbunyi, tanda jam belajar sekolah telah usai. Gerbang sekolah segera dibanjiri dengan murid-murid yang ingin segera kembali ke rumah.

Ketika aku pulang, aku menghampiri Henry, yang sedang berdiri di dekat gerbang sekolah, sambil asyik bermain dengan ponsel miliknya.
Aku lalu bertanya padanya,”Henry, menurutmu tuh, guru-guru disini itu bagaimana ?”

Dia dengan cepat langsung menjawab,”Menyebalkan. Terlalu sering memberi pr. Selalu saja ada penilaian di tiap minggu. Aku bahkan tidak sempat lagi jalan-jalan di akhir minggu karena itu. Coba mereka bisa merasakan apa yang dirasakan murid. Pasti mereka tidak akan begini...”

“Oh, begitu ya. Kata-katamu itu ada benarnya juga. Ya sudahlah, aku pergi dulu,”balasku singkat padanya.

Murid berkata bahwa guru terlalu membebani mereka. Aku sebagai murid tidak bisa berkata apapun selain “ada benarnya”. Karena sebenarnya akhir-akhir ini banyak sekali tugas yang diberikan...

Tiba-tiba saja, kulihat anak-anak berandalan sekolah sedang berkelahi di lapangan. Mereka tidak memakai senjata apapun, melainkan hanya tangan dan kaki-kaki mereka yang kekar. Walau begitu, perkelahian mereka begitu membabi buta. Aku merasa beruntung karena aku jauh dari tempat mereka.

Tidak lama kemudian, banyak anak-anak berdatangan, mereka menonton perkelahian yang sedang berlangsung, tanpa menyadari kalau mereka sendiri bisa-bisa terkena ‘pukulan nyasar’.

Guru-guru berdatangan, mereka melerai para berandal dengan cepat. Masing-masing dari anak-anak itu segera dibawa ke sebuah ruangan khusus. Aku bertanya-tanya, apa yang menyebabkan perkelahian itu ?

Kulihat seorang guru sedang memandang para berandalan yang dibawa ke ruang khusus. Dari wajahnya bisa kulihat perasaan bingung sedang ia rasakan sekarang.

Aku menghampiri guru itu dan bertanya,”Tadi kenapa ada yang berkelahi bu ?”

Guru itu menjawab,”Saya juga tidak tahu. Tapi saya dengar mereka sedang tidak akur. Saya sendiri juga tidak mau tahu sebenarnya, karena mereka itu memang sulit dikendalikan !”

Aku pun bertanya lagi,”Sulit dikendalikan ?”

“Ya, seperti misalnya mereka itu jarang taat peraturan atau nasihat guru. Itulah dia. Di buat tegas pun mereka masih saja begitu. Saya jadi bingung cara mengatasi mereka.”

“Oh, begitu ya bu. Kalau begitu, kenapa tidak dilaporkan ke orang tua mereka bu ?”

“Sudah sering sekali cara itu dilakukan. Hasilnya percuma,”Jawabnya singkat.

“Hm...berarti tidak ada jalan keluar ya bu ?”

“Ya....begitulah.”

Aku meninggalkan guru itu dengan sebuah pemikiran. Murid-murid berkata kalau mereka yang susah. Sementara guru berkata kalau justru merekalah yang menderita.

Lantas, siapa yang membuat susah siapa ?

Rasa-rasanya perkara ini bagaikan lingkaran setan, tiada akhirnya....tiada titik terangnya....

Atau memang mungkin sudah seperti itu halnya ?

Atau memang murid dan guru tidak akan bisa sepenuhnya berdamai ?

Mungkinkah perkara ini adalah kesalahan kedua pihak ?

Ataukah justru tidak ada seorangpun yang bersalah, dan hanya ada kesalahpahaman ?

Terlalu banyak pertanyaan berdengung di pikiranku. Rasa-rasanya aku jadi bingung sendiri.....

Aku lalu berjalan keluar dari kompleks sekolah. Kaki-kakiku berjalan dengan lambat. Entah karena lelah, atau karena aku terlalu banyak berpikir...

Semakin lama aku berjalan, semakin lama aku berpikir. Perkara itu sulit sekali untuk berlalu dari pikiranku. Langkah-langkahku semakin berat dibuatnya...

Lama-kelamaan aku berpikir...sepertinya akulah yang salah...

Aku terlalu banyak berpikir negatif tentang itu....sampai-sampai hanya yang buruk-buruk kuperhatikan....

Tidakkah guru-guru dan murid sering bercanda ria dan tertawa bersama di banyak waktu ?

Tidakkah guru-guru dan murid sering saling bercengkerama di waktu rehat ?

Bukankah mereka semua bergembira bersama di waktu acara-acara sekolah ?

Astaga...memang benar aku yang salah....pikiran negatifku telah membutakanku dari segala hal positif itu....

Memang benar banyak masalah...memang benar banyak perkara...namun juga banyak canda tawa....damai...dan gembira...di antara guru dan murid.

Tidak ada seorangpun yang salah. Hanya pikirankulah yang salah selama ini...

Aku sudah salah kaprah dari awal menanggapi perkara ini. Aku hanya melihat yang buruk saja, tanpa melihat yang baik.

Mungkin sebaiknya aku merubah pandanganku...

Mungkin aku harus mengubah jalan pikirku....

Melihat kedua sisi....baik dan buruk....

Dengan begitu....aku akan baik-baik saja...tenang dan damai....

sama seperti Brigitta, yang tidak hanya melihat sisi burukku ini, namun juga sisi baikku. Sehingga ia terus bersahabat denganku...

Ya...mungkin seharusnya begitu.


TAMAT

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Harap komen dengan penuh tanggung jawab dan sopan.....
Jangan spam di bagian komen blog ini !
Jangan mengiklankan hal-hal berbau porno di kolom komen !
Selamat berkomentar !