Senin, 24 November 2014

Cerbung Simpel II : Hati Wanita ( Part II )

  Hati Wanita

( Part II )

- T.A.A. -




    Tiba-tiba saja, seseorang memanggilku. Suaranya adalah suara seorang perempuan. Tapi kali ini bukan suara halus seperti di kelas waktu itu, kali ini suara yang memanggilku lebih kecil dan kusut. Aku menoleh kepada sumber suara itu dan seperti yang telah kuduga, suara itu datang dari Hilda. Ia memegang buku tugas di tangan kirinya dan sebuah pena hitam di tangan kanannya.

    "Lu udah selesai ngerjain tugas dari pak guru ?"Tanya Hilda.

    "Sudah. Masak loe belum selesai sih ?"Tanyaku balik.

    "Belum. Tapi bentar lagi sih. Tinggal dua nomor lagi,"Balasnya.

    "Oh, begitu. Ya sudah."

    "Lu udah nemuin berita dari koran ?"Tanyanya lagi.

    "Sudah. Gua minta Arga yang cari,"Jawabku singkat.

    "Oh, ya udah deh."

    Aku memalingkan mukaku dari Hilda. Tapi, tunggu dulu...

    Aku melihat sekitarnya, ternyata, di dekatnya, duduk beberapa gadis yang wajahnya tiap-tiap hari aku lihat. Masing-masing dari mereka saling asyik berbicara satu sama lain, dan diantara mereka, kulihat Brigitta. Ia duduk dengan manisnya diantara mereka semua. Sesekali ia tertawa dengan mereka, entah apa yang lucu dari pembicaraan mereka. Aku penasaran....

    "Agung !"

    Sontak aku terkaget ketika mendengar namaku disebut dengan keras. Rupa-rupanya Cindy memanggilku dari jauh dengan agak keras. Ia kembali memanggilku, dan menyuruhku untuk datang ke tempatnya. Aku pun segera datang ke tempatnya, takut apabila ia marah padaku.

     "Ada apa ?" Tanyaku padanya.

    "Kelompok gua udah selesai. Tugas ini dikumpulkan gak ?"

    "Gak usah aja. Lagipula, gurunya kan sedang tidak ada. Simpan saja dulu,"Jawabku.

    "Oh, ya udah. Eh, ngomong-ngomong, kemarin gua baca cerita yang loe bikin di situs loe!"

    "Oh, terus ?"

    "Ada nama teman-teman di sana."
  
    "Oh. Terus apa spesialnya coba ?"Tanyaku lagi.

    "Dari cerita itu gua punya dugaan, kalau lu...suka sama Brigitta !"

    Kata-kata Cindy membuatku agak sedikit kaget. Namun aku berusaha untuk tidak salah tingkah. Akupun berkata padanya , "Ah, enggak kok. Lu sok tahu deh !"

    "Jangan bohong. Bilang aja !" Balasnya.

    "Enggak kok ! Beneran. Gua gak suka sama dia,"Jawabku.

    "Gua yakin loe iya. Soalnya dari deskripsi lu tentang dia di cerita itu, lu sebenarnya menunjukkan kalau lu suka sama dia, lewat cerita itu," Jelasnya.

    "Hmmm....tahu juga lu."

    "Hah ! Gua benar kan !"Katanya senang.

    "Ya udah. Terus ? Apakah ada sesuatu yang tidak benar dari itu ?" Tanyaku.

    "Enggak sih. Cuman bikin sedikit kaget aja..."

    "Oh, ya udah. Tapi tolong jangan kasihtahu siapa-siapa ! Gua gak suka dimesra-mesrain sama teman-teman !"

    "Iya, sip !"Jawabnya sambil berlalu pergi.

    Aduh, hatiku berat rasanya. Suatu makna dalam dari ceritaku diketahui oleh orang yang aku tidak ingin agar orang itu tahu akan makna ceritaku itu. Ya maklum saja, dia memang gadis yang sangat pintar. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari dia. Dia pasti akan bisa menebak makna tersembunyi ataupun rahasia manapun dengan benar, entah sesulit apapun makna atau rahasia itu untuk ditebak. Aduh....

    Aku pergi dari tempat Cindy, dan berjalan ke tempat dimana Brigitta berada. Ketika sampai disana, aku langsung disambut dengan kata-kata tidak ramah dari Desi, sahabat Brigitta yang bisa dibilang...paling dekat dengan Brigitta. Perlu beberapa waktu untuk membuat dia tidak bersikap menyebalkan. Tapi akhirnya aku berhasil berbicara dengan Brigitta dan teman-temannya.

    Disela-sela pembicaraanku dengan Brigitta dkk, Nadine, yang duduk disebelah Desi, berkata kepadaku,"Gung, lu kenapa sih selalu ngata-ngatain orang melulu ?"

    "Lu sering bilang kalau orang itu jelek, emang loe sendiri udah sempurna apa ? Loe juga sering bilang kalau orang lain itu bodoh, emang lu sendiri udah paling pinter apa?"Lengkapnya.

    Aku yang kaget akan omongannya, membalas,"Ada apa ? Kok tiba-tiba lu ngomong begitu ?"

    "Habis loe itu selalu ngata-ngatain orang akhir-akhir ini. Khususnya ke Laras dan Desi. Loe sering banget akhir-akhir ini bilang mereka itu jeleklah, gak cantiklah, bla bla bla...."

    "Kan gua cuma becanda...."

    "Becanda boleh, tapi jangan sampai kasar dong !"

    "Iya, iya....lagian, gua juga gak bermaksud serius...."

    "Agung mah, selalu gitu deh. Dari kecil, kalau becanda itu bikin orang sakit hati,"Kata Brigitta tiba-tiba.

    "Apaan sih , gita...gua kan gak maksud mau nyakitin hati orang. Ya udah, gua janji deh gua gak bakal ngatain orang lagi...."

    "Entar dilanggar lagi janjinya....kan kadang-kadang loe gitu,"Balas Brigitta dengan nada menyindir.

    "Enggak, kali ini gua beneran janji,"Balasku.

    "Ya udah, gua gak mau sampai temen-temen gua dikatain lagi sama loe,"Katanya.

    "Iya, i promise with my soul, my beloved mistress,"Jawabku pada Brigitta.

    "Hm. Jangan sok bisa bahasa Inggris. Gua tahu lu pintar bahasa Inggris, tapi jangan sok,"Kata Brigitta.
  
    "Iya, iya. Terus elu mau gua pake bahasa apa ?"

    "Apa aja deh. Yang penting gak bikin lu jadi sombong kayak lu kecil dulu !"

    "Kok lu masih ingat sih sama gua waktu kecil ?" Tanyaku penasaran.

    "Kan dulu kita satu sekolah terus ! Ya makanya, sampai sekarang gua ingat kelakuan lu. Masak lu enggak ingat sih sama masa lalu loe sendiri ?" Jawab Brigitta sambil tersenyum kecil.

    "Eheheh. Maklum, banyak pikiran,"Jawabku singkat. Aku agak tidak bisa berkata-kata karena senyuman kecilnya yang indah itu. Namun akan aku usahakan agar aku tidak salah tingkah  karena suatu rasa..yang timbul dalam diriku sekarang. Aku sedang tidak mood untuk dikata-katain...

    "Eh, kita tinggalin aja yuk mereka berdua disini, biar makin dekat satu sama lain !" Kata Laras tiba-tiba sambil menunjuk aku dan Brigitta.

     "Eh, iya ya. Ya udah , yuk pergi," Balas Desi.

     "Dah ! Selamat bermesraan !" Kata Nadine.

    "Eh, apaan sih ! Elu sih gung ! Pake kesini segala !"
   
    "Lah ? Jangan salahin gua dong ! Si Laras kan yang bikin ini becandaan !"

    "Ya tapi kan elu yang kesini duluan !"

    Tiba-tiba, sorakan-sorakan kata 'cie' muncul dari teman-teman lain yang berada tidak jauh dari kami berdua. Sontak, wajahkupun agak memerah. Brigitta, yang kuasumsikan mulai merasa risih, pergi dari tempatku dan dia berada sambil berkata, "Ah, tahu ah ! Gua gak enak tahu rasanya !"

    Cepat-cepat ia pergi meninggalkanku, dan bergabung bersama dengan teman-temannya lagi. Ah, terkadang berurusan dengan seorang gadis memang sulit. Penuh dengan selisih paham yang sepertinya tak berujung. Namun, rasa-rasanya semua urusan sulit dengan seorang gadis akan hilang, bila gadis itu memberikan senyumannya yang indah dan tidak dapat didapatkan dimana-mana dan kapan saja...seperti yang barusan....

Bersambung...


  

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Harap komen dengan penuh tanggung jawab dan sopan.....
Jangan spam di bagian komen blog ini !
Jangan mengiklankan hal-hal berbau porno di kolom komen !
Selamat berkomentar !